Sapa disini..


ShoutMix chat widget

Apa yang Kau Cari?

Di suatu senja di sebuah sekolah, datanglah seorang ukhti menghampiri masjid sekolah itu. Ia merupakan salah satu alumni dari sekolah itu dan kini ia sedang menjalani aktivitasnya sebagai seorang mahasiswi di sebuah kampus yang cukup terkenal.

Datang ke sekolah itu sudah menjadi rutinitasnya setiap jumat sore. Ia datang ke masjid sekolahnya untuk mengisi pengajian bagi adik-adik kelasnya. Rutinitas ini sudah dijalaninya selama hampir 3 tahun, walaupun terkadang masih ada saja halangan yang membuatnya tidak dapat datang ke masjid ini secara rutin untuk mengisi pengajian disana.

Sesampainya disana, ia langsung bertemu dengan adik-adik kelasnya, yang menjadi binaannya, yang tengah menunggu kehadirannya. Setelah beberapa menit berbasa-basi atau hanya sekedar menanyakan kabar, akhirnya pengajian itu pun dimulai.

Hari itu, seperti biasanya ukhti ini membawakan materi pengajian sambil membuka ayat-ayat suci al-Quran sebagai referensi. Binaannya pun memperhatikan apa yang disampaikan olehnya dengan seksama walaupun dengan berbagai gaya. Ada yang sambil bersandar, duduk bersila, duduk dengan memeluk kedua kakinya, bahkan ada pula yang sambil tengkurap. Walaupun begitu, dengan sabarnya ukhti ini tetap memperhatikan binaan-binaannya itu.

Sampai pada penghujung pertemuan, datanglah seorang teman dari binaan-binaan si ukhti. Dulu, anak ini pernah mengikuti pengajian dengannya ketika ia masih kelas 1 SMA. Namun, selama kurun 2 tahun ini -sekarang ia kelas 3 SMA- ia sudah jarang hadir ke pengajian ini. Datang tanpa diundang, pulang tak diantar. Ia pun masuk ke dalam lingkaran pengajian yang sudah selesai sesi penyampaian materinya dan sudah hampir ditutup.

Sebelum majlis benar-benar ditutup, ia mengajukan pertanyaan kepada si ukhti, “Kakak, kakak rumahnya dimana?”

Ukhti ini pun langsung menjawab, “Rumahku di Jl. X”

Sambil menatap ukhti ini, anak itu pun bertanya lagi, “Kakak, kok kakak mau si datang kesini?”

Si ukhti agak kaget juga tiba-tiba ditanya pertanyaan seperti itu. Belum sempat si ukhti menjawab, binaan-binaannya berebutan menjawab pertanyaan anak itu. “Kan kakaknya mau ketemu gue!” ada juga yang bilang “Ya, mau aja lah..” dan ada beragam jawaban lainnya.

Si ukhti pun belum sempat mengeluarkan suaranya lagi kemudian anak itu kembali melanjutkan pertanyaannya “Kakak kesini dibayar ga?”

Si ukhti hanya tersenyum sambil menggeleng dan berkata, “Biar Allah saja yang bayar”

Kemudian, anak ini pun melanjutkan perkataannya dengan mata yang lebih berbinar dan menatap si ukhti lebih seksama. “Aku ga ngerti de kak sama orang kayak kakak. Kok mau si kak meluangkan waktu buat kesini? Udah gitu ga dibayar lagi. Aku dulu pernah kak diminta ke SMP ku buat ngisi pelatihan animasi, tapi itu juga dibayar 50 ribu setiap pertemuan. Aku masih ga ngerti aja kak, kok bisa ada si orang kayak kakak. Beneran ga ngerti kak, kakak tu realistis ga si??”

Binaan-binaannya langsung menjawab lagi, “Realistis lah.. masa ga realistis?”.

Si ukhti hanya menatap sambil tersenyum dan berkata pada anak itu sambil bercanda, “Realistis kok.. ni buktinya aku napak di bumi”

Anak itu pun masih menggelengkan kepalanya sambil berpikir penuh tanya, “Aduh, kok bisa ya ada orang kayak kakak..”

Kemudian, selama beberapa menit diskusi pun berlanjut. Sejurus kemudian, temannya memanggilnya untuk pulang bareng, anak ini pun undur diri, “Kak, aku pulang duluan ya”

“Ya, hati-hati ya” jawab si ukhti.

Binaan yang lain pada protes, “Yee.. datang ga diundang, pulang duluan!”

Dan akhirnya, pengajian itu pun dilanjutkan sebentar kemudian ditutup.
———————————————————————————————————————–

Ya, apa yang kita cari dalam dakwah? Apa yang kita harapkan darinya?
Bayarankah? Pandangan orang terhadap kita kah? Jabatan kah? Kedudukan yang besar di mata manusia kah?

Cukuplah Allah yang menjadi alasan.. cukuplah Allah saja yang membayar.. cukuplah ridho Allah sebagai ganjarannya..
Dan biarkan Allah saja yang tahu apa yang tersembunyi di balik hati..

4 comments to Apa yang Kau Cari?

  • ya ampun, pertama lagi… duh…

    He-eh fit, mila juga kadang bingung:
    kenapa ya capek2 begitu?

    Tapi yang paling ngebingungin adalah:
    kenapa ya kok ngejalaninya enjoy2 aja?
    Malahan ‘nyesek’ kalau ga menunaikanya…

    Hiyaaa…
    begitulah.

  • @mila
    selamat!! lagi2 pertamax :mrgreen:
    ~memang, mila adalah pembaca setia blog fitrirachmawati.com ini..
    ~perlu dikasih blog award kategori pembaca setia hehe.. :razz:

    ‘nyesek’ ah.. bahasa yang bagus..
    iya mil, rasanya sedih banget kalo ga bisa kesana.. sama sedihnya kalo fitri lagi kangen sama gunung trus ga bisa liat dia.. (loh?!)

    seperti ada yang hilang di dalam ruang hati –> mencoba melankolis
    mungkinkah karena cinta?
    cinta yang membuat kita begitu merindukannya..
    cinta pula yang membuat kita begitu merindukanNya

  • pasti mba2 yang nulis ini jadi adek2 yang ada di sana, atau jadi kakak yang dateng ke sana,, hehe..

  • subhanallah deh kakak-kakakku ini :D . Mangstab bener.. d(^.^)b

    Cukuplah Allah yang menjadi alasan.. cukuplah Allah saja yang membayar.. cukuplah ridho Allah sebagai ganjarannya..
    Dan biarkan Allah saja yang tahu apa yang tersembunyi di balik hati..

    Likes this banget kak Fitri, yaah insyaAllah segala sesuatu yang kita niatkan ikhlas karna Allah semata, semua akan menjadi terasa lebih indah dan membuat hati kita menjadi lebih ringan :)

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Anti-Spam Protection by WP-SpamFree